Berkaca Diri

Ketika kita mematut diri kita didepan kaca, terkadang atau bahkan sering timbul dalam hati kita rasa kebanggaan bahkan dapat meningkat kepada kesombongan atau kecongkakan dikarenakan kita punya kelebihan, baik itu bentuk fisik tubuh, kemampuan diri maupun harta yang berlebih.

Tetapi bila kita lebih arif dalam mematut diri, sesungguhnya rasa tersebut akan ciut bersamaan dengan kesadaran atas kebesaran Allah yang mengatur semua ini. Bahwa semua itu hanyalah datangnya dari-Nya dan kita ini adalah tiada. Bukankah Allah swt pernah berfirman:

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. 17:37)

dan didalam ayat lain Allah menyatakan:

“Dan janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. “(QS. 31:18).

Imam Al-Ghazali pernah menuliskan dalam salah satu karyanya tentang ada empat cara atau kiat dalam mematut diri sehingga rasa bangga diri, sombong, congkak ataupun kepongahan perlahan bisa berangsur sirna dari diri kita:

  1. Muta’alim, yaitu banyak belajar segala segi-segi kehidupan keagaaman dari guru-guru agama, kiai, ustadz atau ulama. Misalnya belajar khusus pada ulama-ulama tertentu atau sering-sering hadir didalam majlis-majlis ta’lim. Dari kegiatan ini tentunya kita dapat lebih diingatkan akan kebesaran Allah swt dan hal ini akan lebih menyadarkan tentang ketiadaan kita dibanding Dia. Dan juga kita dapat lebih banyak berkonsultasi terhadap sikap kita pada orang-orang alim ini sehingga segala tindakan kita dapat lebih cepat terkoreksi.
  2. Musahabah, yakni berteman dengan orang yang baik, alim lagi bertaqwa. Dalam lingkungan orang yang beriman, sikap kita tentu akan lebih terjaga dari hal-hal yang tidak baik dan juga tentunya akan ada saling mengingatkan didalam lingkungan tersebut dalam kebenaran. Dan insya Allah dalam kondisi lingkungan saling mengingatkan ini kita akan terjaga dan selalu diingatkan akan hal-hal yang tidak baik dari diri kita dan tentunya insya Allah yang akan timbul hanya yang baiknya saja.
  3. Muhasabah, yakni menghisab diri dengan menerima segala sesuatu masukan dari luar atau lingkungan kita apakah itu tentang kebaikan kita, apatah lagi hal-hal yang negatif dalam sikap kita bergaul dalam lingkungan maupun dari luar lingkungan bahkan dari orang-orang yang kita rasakan selalu mengkritik kita ataupun bahkan memusuhi kita selama ini. Hendaknya kita terima semua masukan, kritik dan saran itu dengan hati lapang hingga kita dapat lebih introspeksi kedalam diri kita.
  4. Bersosialisasi terhadap semua lingkungan yang majemuk, sehingga kita tahu semua segi-segi kehidupan serta kita temukan bermacam-macam tingkat keberadaan seseorang. Jika kita melihat keatas pasti banyak lagi yang lebih dari kita dan untuk apa kita berbangga diri. Dan bahkan jika melihat kebawah seharusnya kita bersyukur kita diberi lebih dari mereka.

Semoga Allah swt selalu membimbing kita dalam bersikap yang sudah tentu harus diikuti oleh kesungguhan (mujahadah) kita dalam mematut diri atau menjaga sikap kita secara terus-menerus (istiqomah), sehingga kita luput dari siksaan dan kehancuran yang ditimpakan kepada orang-orang sebelum kita tidak terjadi pada diri kita.

Silahkan Beri Kesan dan Komentar Anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s