Wasiat Ibnu ‘Arabi : “Menjaga Ucapan” Bag. 2

Hendaklah engkau menjaga ucapanmu sebagaimana engkau menjaga perbuatanmu. Ucapanmu termasuk dalam perbuatanmu. Karena itu dikatakan : “Barang siapa menghitung ucapannya sebagai termasuk dalam perbuatannya, maka ia akan mengurangi ucapannya.”

Ketahuilah bahwa Allah menjaga ucapan hamba-hamba-Nya, karena Allah hadir pada lisan setiap orang bicara. Allah tidak mencegahmu dari mengucapkannya. Akan tetapi engkau jangan mengucapkannya jika memang engkau tidak meyakininya, kerana Allah akan menanyaimu tentang itu.

Diriwayatkan kepada kami bahwa malaikat tidak menuliskan bagi seorang hamba apa yang diperbuatnya hingga ia mengatakannya. Allah berfirman :

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Raqib dan ‘Atid)” (QS. Qaf 18)

Malaikat itulah yang menghitung perkataanmu.

Allah berfirman : “…Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Infithar 10-12)

Ucapanmu termasuk perbuatanmu.

Jika engkau berkata, maka berkatalah dengan timbangan dari apa yang telah Allah tetapkan atas dirimu untuk engkau katakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah bergurau dan berkelakar. Hanya saja, beliau mengatakan yang sebenarnya.

Hendaklah engkau mengucapkan perkataan yang benar dan diridhoi Allah. Tidak setiap perkataan benar yang diucapkan itu diridhoi Allah. Umpatan juga benar, dan ghibah (menggunjing atau menceritakan keburukan orang lain) pun benar pula, tetapi keduanya tidak diridhoi Allah. Allah melarang kita bergunjing dan mengumpat orang lain.

Diantara ucapan yang diperintahkan oleh Allah untuk dijaga adalah yang diungkapkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim dari Allah subhanallahu wata’ala. Dikatakan bahwa ketika turun hujan dari langit, Allah berfirman, “Diantara hamba-hamba-Ku, ada yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kufur. Barang siapa mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena begini dan begitu,’ maka ia telah kufur kepada-Ku dan percaya kepada bintang-bintang. Adapun orang yang mengatakan. ‘Kami diberi hujan karena rahmat dan karunia Allah,’ maka itu berarti bahwa ia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang-bintang itu..”

Perhatikan apa yang ditetapkan Allah dalam firman-Nya “Ia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang-bintang.” Bilamana ia mengatakan, “Dengan karunia Allah,” maka ia telah menutupi bintang yang tidak disebutkan namanya. Dan barang siapa mengatakan, “Berkat bintang-bintang,” maka ia telah menutupi Allah. Jika ia meyakini bahwa Dia adalah Pelaku yang menurunkan hujan, namun tidak mengucapkan namanya, maka Allah subhanallahu wata’ala mendatangkan kekufuran yang merupakan tabir.

Berhati-hatilah engkau dari meminta hujan hingga engkau mengatakannya. Yang paling pantas adalah engkau meyakininya. Jika engkau beriman kepada Allah, maka Dia hanya mengangkat keyakinanmu sebagai dalil yang bersifat biasa. Setiap dalil yang bersifat biasa boleh keluar dari kebiasaan. Berhati-hatilah terhadap bahaya kebiasaan, dan janganlah itu sampai memalingkanmu dari hukum-hukum Allah, karena Allah tidak menetapkannya sampai Dia menjaganya.

Disebutkan dalam hadits shahih : “Seseorang mengucapkan perkataan yang dimurkai Allah, yang dikiranya bakal sampai pada tujuan. Dengan perkataan itu ia dicampakkan ke dalam neraka selama tujuh puluh musim gugur. Seseorang mengucapkan perkataan yang diridhoi Allah yang dikiranya akan sampai pada tujuan, maka dengan perkataan itu ia diangkat ke dalam ‘illiyyin.”

Janganlah engkau ucapkan kecuali apa yang diridhoi Allah, bukan yang dimurkai Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidaklah Dia mencampakkan manusia ke dalam neraka melainkan disebabkan oleh lisan mereka.”

Dan Al Hakim mengatakan : “Tidak ada sesuatu yang lebih berhak dipenjara ketimbang lidah.”

Allah telah menjadikannya di balik dua pintu, yaitu kedua bibir dan gigi, dengan demikian, ia banyak melakukan fudhul (tindakan mencampuri urusan orang lain) dan membuka pintu-pintu kejahatan yang lain.

Sumber : Wasiat-wasiat Ibnu ‘Arabi

Iklan

6 thoughts on “Wasiat Ibnu ‘Arabi : “Menjaga Ucapan” Bag. 2

    • Bener itu…
      Mulut/lidah kalau tidak dijaga maka bisa mengeluarkan perkataan apa saja yang kita inginkan, sehingga tidak menyadari apakah itu baik atau buruk..

      Suka

        • Kalau kita menceritakan yang telah kita saksikan, dikhawatirkan kita menambah perkataan yang lain, karena kita bercerita dari sudut pandang kita sendiri, mungkin berbeda dari sudut pandang orang lainnya…

          Suka

Silahkan Beri Kesan dan Komentar Anda disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s